Monday, October 31, 2011

ULAR DAN KATAK


Baca: Galatia 5:1-6:2

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 8-11

Pada saat bencana banjir di Brisbane Queensland akhir tahun 2010 lalu, Armin Gerlach—seorang teknisi kantor berita—berhasil mengabadikan sebuah momen langka. Yakni rekaman foto tentang persahabatan seekor katak hijau yang mendapat tumpangan di punggung seekor ular coklat yang berenang melintasi genangan air akibat banjir. Bukankah seekor ular biasanya melahap katak yang lemah sebagai mangsanya? Namun, ketika bencana menimpa, dua hewan itu mampu mengesampingkan segala perbedaan di antara keduanya hingga si kuat memberi diri menyelamatkan si lemah.

Sebagai makhluk yang lebih mulia, seharusnya manusia bisa bersikap lebih dari itu. Namun kenyataannya, banyak orang hidup dengan memuaskan nafsu dagingnya sampai saling menggigit, menelan, dan membinasakan (ayat 15). Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa oleh penebusan Kristus (5:1). Maka, jangan sampai kita berbalik lagi ke dalam kehidupan lama (ayat 16-21). Setiap orang beriman harus menghidupi hakikat hidup barunya, yaitu hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh (ayat 25) agar menghasilkan buah Roh (ayat 22-23). Bagaimana hidup oleh Roh itu diwujudkan dalam relasi antar orang beriman, agar hidup ini menghasilkan buah Roh yang memberkati sesama dan memuliakan Tuhan?

Ingat dan terapkan firman ini sebagai petunjuk praktis hidup sehari-hari: Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2). Sebagai orang yang sudah dibebaskan Kristus dari dosa, kiranya hidup kita jauh dari sikap egois, penuh dengki, saling menggigit dan menelan —SST
TUHAN MENYELAMATKAN KITA DENGAN KASIH YANG TIDAK EGOIS
MAKA BETAPA TAK TAHU MALUNYA KITA APABILA HIDUP EGOIS
Written by Susanto
Share:

Saturday, October 29, 2011

DUA PENYAMUN SATU YESUS

Baca: Lukas 23:33-43

Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:42)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 1-4

Dua orang, pada satu tempat, satu waktu, dihadapkan pada hal yang sama, ternyata bisa membuat dua keputusan berbeda. Ini terjadi pada dua penyamun yang disalibkan bersama Yesus. Masing-masing di samping kiri dan kanan-Nya. Mereka menerima hukuman itu karena kejahatan yang sudah mereka lakukan. 

Sebelum sampai ke salib, kedua penyamun ini mungkin sudah malang-melintang di dunia kejahatan. Namun, aha, siapa lelaki di tengah ini? Apa kejahatan yang Dia perbuat? Mengapa Dia diam ketika disesah sedemikian rupa? Benarkah Dia menyebut diri-Nya Raja?

Penyamun pertama menghujat Yesus. Mungkin ia berpikir, jika orang yang berbuat baik dan berbuat jahat sama saja nasibnya, untuk apa menyusahkan diri dengan sedikit kebaikan dan empati? Penyamun kedua, walau awalnya menghujat, tertegun dengan sosok Yesus. Ada kepasrahan dan sikap koreksi diri darinya. Ada keyakinan bahwa kebenaran itu tetap ada walaupun tersangkut di tiang salib: Yesus tak bersalah. Saya bersalah.

Kepada Yesus, penyamun kedua menyampaikan permintaanya: “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ia hanya meminta Yesus mengingatnya. Itu lebih dari cukup baginya. Namun, Yesus memberi jauh melebihi yang ia minta. Tidak sekadar mengingat, tetapi hari itu juga ia bersama dengan Yesus di Firdaus. 

Dua orang, satu waktu, satu tempat, satu kejadian, memandang satu Yesus. Apa yang mereka lihat dalam diri Yesus bisa berbeda satu sama lain, tetapi orang yang memilih yang terbaik, sudah bersama-sama dengan Yesus di Firdaus hari itu juga. Bagaimana dengan kita? —SL
BISA ADA BANYAK PANDANGAN ORANG TERHADAP YESUS
NAMUN YANG PENTING: BAGAIMANA KITA MEMANDANG YESUS?
Written by Sicillia Leiwakabessy
Share:

Friday, October 28, 2011

KELIMPAHAN ANUGERAH

Baca: Matius 5:38-48

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Matius 5:44)

Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 14-16

Pada 4 Agustus 1987, Carlina White yang baru berusia 19 hari diculik seorang wanita yang menyamar sebagai perawat di Harlem Hospital, New York. Saat masih kecil, ia kerap dipukul. Maka, saat remaja, White curiga apakah benar Pettway ialah ibu kandungnya. Terutama saat ”sang ibu” menolak memberikan akta kelahirannya, saat ia hendak mengurus SIM. Kini, misteri itu terkuak dan si penculik sedang menjalani pemeriksaan FBI.

Ketika Joy White—ibu kandung Carlina—dipertemukan dengan anaknya pada 2010, ia berkata: ”Saya ingin Pettway menderita seperti yang saya alami selama 23 tahun ini.” Namun, sungguhkah Joy White bisa puas dan bahagia ketika si penculik dihukum seberat-beratnya? Ia memang telah menderita selama 23 tahun, tetapi bukankah seharusnya seluruh penderitaan itu sirna dan diganti dengan kebahagiaan serta syukur melimpah karena Tuhan mengembalikan anaknya? Begitulah kebanyakan manusia mengukur keadilan, yakni dengan hukum ”mata ganti mata, gigi ganti gigi” (ayat 38). Bahkan dendam bisa menutupi kebaikan dan kasih Allah yang masih berlaku baginya. 

Namun, seseorang yang telah mengalami anugerah Tuhan akan dimampukan untuk melihat bagaimana tangan Allah berkarya baginya. Dengan begitu, ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan juga, tetapi mengasihi musuh dan berdoa baginya (ayat 39,44). Ini tidak gampang. Kekuatan manusiawi saja tak sanggup melakukannya. Itu sebabnya kita perlu kekuatan surgawi, yakni jamahan kasih Allah, supaya kita dapat menunjukkan sikap sebagai anak-anak Bapa (ayat 45): tidak mendendam dan tidak membalas segala hal tidak baik hanya untuk memuaskan hati—SST
DENDAM ITU TAK BERGUNA DAN TAK MENYELESAIKAN MASALAH
HANYA KASIH YANG MELEGAKAN DAN MEMUASKAN JIWA YANG RESAH
Written by Susanto
Share:

Thursday, October 27, 2011

PINTU

Baca: Yohanes 10:1-10
 
Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput (Yohanes 10:9)
 
Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 11-13

Salah satu sebutan Yesus yang saya dapati sangat menarik adalah “pintu”. Yesus sendiri yang membuat sebutan itu, seperti diuraikan bacaan hari ini. Seperti pintu kandang bagi domba-domba, demikianlah Yesus menjadi sumber keselamatan dan kehidupan bagi umat-Nya. Perumpamaan yang sangat indah.

Kita mengetahui bahwa domba-domba aman setelah mereka masuk kandang melalui pintu. Kita juga mengetahui, domba-domba bisa makan setelah mereka keluar kandang melalui pintu. Sebagai “Pintu”, Yesus menjadi jalan masuk kita, domba-domba-Nya, menuju keselamatan. Melalui Dia kita aman. Melalui Dia pula, kita “makan” dan hidup.

Akan tetapi, hal lain yang saya dapati menarik adalah fakta bahwa banyak orang tertegun atau ragu tatkala berada di depan “Pintu” itu. Bukannya mencoba lewat untuk mengalami keselamatan dan kehidupan, mereka malah mempersoalkan banyak hal tentang “Pintu” tersebut. Ada yang tidak suka tampilan-Nya: tidakkah Dia terlalu sederhana—anak tukang kayu—untuk menjadi Penyelamat manusia? Ada yang membandingkannya dengan “pintu-pintu” lain: Bukankah Dia cuma satu dari sekian banyak tokoh agama? Ada juga yang menuntut penjelasan: bagaimana “Pintu” yang satu ini bisa menuntun kepada keselamatan dan kehidupan kekal?

Sebagai umat sang “Pintu”, kita wajib menanggapi semua pertanyaan itu sebaik-baiknya. Namun, janganlah kita terpancing untuk terpaku dalam usaha memberi penjelasan logis. Kadang-kadang cara manjur untuk meyakinkan orang yang ragu di depan “Pintu” itu adalah cara Filipus: “Mari dan lihatlah” (Yohanes 1:46-49) —SAT
UMAT KRISTUS HARUS MENJADI SAKSI TEPERCAYA
TENTANG KEHIDUPAN DI BALIK PINTU KESELAMATAN
Written by Samuel Tumanggor
Share:

Wednesday, October 26, 2011

MAKIN BERKOBAR

Baca: Filipi 1:3-11

Mengenai hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:6)

Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 8-10

Dalam Perjalanan Seorang Musafir, John Bunyan menceritakan perjalanan Si Kristen ke Celestial City, kota surgawi yang kekal. Saat singgah di rumah Juru Penerang, ia melihat api yang menyala-nyala di muka tembok. Di depannya ada orang yang berdiri sambil berkali-kali menyirami api itu dengan air, tetapi api itu malah semakin berkobar. Juru Penerang  menjelaskan, api itu anugerah yang bekerja di hati orang percaya; orang yang menyiramkan air berusaha memadamkannya adalah si jahat. Lalu, mengapa api itu semakin berkobar? Juru Penerang memperlihatkan apa yang terjadi di balik tembok itu: Seseorang berdiri memegang bejana minyak dan terus-menerus, secara rahasia, menuangkannya ke dalam api itu. “Kristuslah,” kata Juru Penerang, “yang terus-menerus, dengan minyak anugerah-Nya, memelihara pekerjaan yang telah dimulai-Nya di hati seseorang.”

Bunyan berpijak pada penjelasan Rasul Paulus tentang pertumbuhan dan pendewasaan orang percaya. Pekerjaan Allah di dalam diri kita berlangsung seumur hidup dan berakhir saat kita bertemu muka dengan Kristus Yesus. Pekerjaan-Nya bagi kita berlangsung pada saat Kristus disalibkan. Pekerjaan-Nya di dalam diri kita dimulai ketika kita percaya kepada-Nya. Dia mengaruniakan Roh-Nya, yang menyertai kita selama-lamanya (Yohanes 14:16), untuk meneruskan dan menyempurnakan pekerjaan tersebut.

Apabila kadang muncul keraguan, dapatkah kita mengakhiri pertandingan iman ini dengan baik; kiranya nas hari ini meneguhkan keyakinan kita. Kemenangan kita bukan ditentukan oleh usaha kita, melainkan terjamin oleh anugerah-Nya —ARS
APABILA MINYAK ANUGERAHNYA TERUS DICURAHKAN DALAM HATI KITA
SIAPAKAH YANG SANGGUP MEMADAMKAN NYALA APINYA?
Written by Arie Saptaji

Share:

Tuesday, October 25, 2011

KEPRIBADIAN


Baca: Kolose 2:6-15

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman … hendaklah hatimu melimpah dengan syukur (Kolose 2:7)
 
Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 4-7

Melankolik, kolerik, sanguin, dan plegmatik. Teori penggolongan manusia menjadi empat tipe kepribadian ini lahir dari kepercayaan orang Yunani kuno bahwa tubuh manusia tersusun oleh empat macam cairan, yang dalam bahasa Yunani disebut melanchole (cairan empedu hitam), chole (cairan empedu kuning), phlegm (lendir), dan sanguis (bahasa Latin: darah). Menurut mereka, setiap orang memiliki kecenderungan kepribadian tertentu sejak lahir karena perbedaan komposisi cairan-cairan ini.

Kepercayaan ini sendiri sudah dibantah oleh para ilmuwan modern. Namun, sistem penggolongannya masih populer, terutama di kalangan awam. Sekadar sebagai bahan diskusi, tak menjadi masalah. Sayangnya, klasifikasi ini kerap dijadikan alasan orang untuk tidak mau memperbaiki diri. “Saya lahir dengan kepribadian begini, jadi memang saya lemah di hal-hal ini,” begitu kilah sebagian orang. Seakan-akan kepribadian dan karakternya tidak mungkin lagi berubah. Padahal, setiap manusia terus berubah sepanjang hidupnya. Masalahnya, ke arah manakah ia berubah?

Alkitab mengajarkan bahwa kita sebagai umat Allah harus berubah semakin sempurna. Sebab, setelah Kristus menebus kita, kita dipanggil untuk “dibangun di atas Dia” (ayat 7). Untuk semakin berpusat dan semakin sempurna di dalam Dia. Jadi, selama kita belum memiliki ”kepribadian seperti Dia”, kita harus terus memperbaiki diri. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita tekun mengejar kesempurnaan. Membangun karakter mulia, meninggalkan kecenderungan-kecenderungan yang kurang mulia, menjadi dewasa rohani dan menjadi saluran berkat bagi orang lain —ALS
KITA DIPANGGIL UNTUK TERUS MEMBANGUN DIRI 
AGAR OLEH KASIH TUHAN KITA MENJADI SEPERTI KRISTUS
Written by Alison Subiantoro
Share:

Monday, October 24, 2011

MEMANDANG SALAH


Baca: Mazmur 119:33-37

Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa ... (Mazmur 119:37)

Bacaan Alkitab Setahun:
Markus 1-3

Suatu kali Bung Hatta menginginkan sebuah sepatu bermerek yang berkualitas bagus, tetapi cukup mahal. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung. Namun, tabungannya selalu berkurang untuk memenuhi keperluan keluarga atau orang-orang yang meminta bantuan. Akhirnya, hingga meninggal Bung Hatta tidak pernah membeli sepatu itu. Baginya, menjadi berarti bagi keluarga dan kerabat lebih membuatnya bahagia daripada memiliki sepatu mahal.

Secara lebih dalam, pemazmur memberitahukan sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam terjemahan Today’s English Version, Mazmur 119:35 berbunyi: “Buatlah aku taat pada perintah-perintah-Mu, karena di situlah aku menemukan kebahagiaan.” Itu sebabnya di ayat berikutnya pemazmur meminta: “Berilah saya kerinduan yang besar untuk menaati hukum-hukum-Mu, lebih besar dari keinginan saya untuk menjadi kaya” (ayat 36). Inilah yang menghindarkannya dari mengejar ”hal yang hampa” (ayat 37, TB).

Sebagai sarana hidup, uang adalah benda netral. Sayang, banyak orang kemudian memandang salah. Ia mengira sumber kebahagiaannya ialah uang, agar ia dapat memiliki ini itu. Maka, ada uang, bahagia. Tak ada uang, susah, bingung, dan khawatir. Padahal semestinya tidak demikian. Kebahagiaan terjadi jika kita mengikuti kehendak Kristus dan menaati firman-Nya. Dengan begitu, secara berturutan kita akan menikmati damai, sukacita, dan hidup yang berarti. Dan, tentu saja Dia—yang besar dan mengasihi kita—akan mencukupkan apa yang kita perlu di hidup ini (Filipi 4:19). Kejarlah sumber bahagia yang sejati, bukan yang hampa —AW
KEMBALIKAN UANG KE POSISI SEMULA
YAKNI SEBAGAI HAMBA, BUKAN TUAN KITA
Writer : Agustina Wijayani
Share:

Sunday, October 23, 2011

MENCONTOH KEPEMIMPINAN ALLAH


Baca: Yehezkiel 34:1-10

Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? (Yehezkiel 34:2)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 25-28

David Mukuba Gitari ialah uskup agung Gereja Anglikan Kenya periode 1996-2005. Ia berani menyampaikan suara kenabian bagi pemerintahnya, meski itu membuat nyawanya terancam. Ia percaya para pemimpin Kenya harus mencontoh kepemimpinan Allah, gembala yang baik. Suatu kali, usai berkhotbah di depan banyak politisi, Gitari berpesan, “Pergilah ke parlemen dan jadilah gembala yang baik.”

Perkataan Gitari tentu didasarkan atas Alkitab. Alkitab kerap mengibaratkan Allah maupun pemerintah sebagai gembala (misalnya Mazmur 23 dan Yehezkiel 34—yang kita baca hari ini). Artinya, gambaran ideal pemerintah dalam Alkitab adalah seperti gembala yang baik; mengurus dan melindungi rakyat. Benar, pemerintah harus meniru cara-cara Allah menggembalakan umat-Nya.

Sayangnya, banyak pemerintah di dunia tidak berbuat demikian. Pada zaman Yehezkiel saja Allah harus murka kepada para pemimpin Israel yang malah “menggembalakan dirinya sendiri”. Mereka mengambil untung sebesar-besarnya dari rakyat, mengabaikan kesejahteraan rakyat (ayat 3-6). Maka, Allah tampil sebagai lawan mereka, sebab semua rakyat sesungguhnya adalah rakyat Allah (ayat 10).

Jika kita pejabat pemerintah, tinggi atau rendah, ingatlah bahwa kita diberi kehormatan untuk mencontoh kepemimpinan Allah. Jangan sia-siakan kehormatan ini. Jalankan kepemimpinan Anda secara bertanggung jawab. Jika kita rakyat biasa, ingatlah untuk mendoakan para pejabat. Sekiranya ada peluang, tak salah juga berseru kepada mereka, “Pergilah ke tempat kerja dan jadilah gembala yang baik” —SAT
PEMERINTAH YANG BIJAK
HARUSLAH MENCONTOH CARA TUHAN MEMERINTAH
Written by Samuel Tumanggor
Share:

Saturday, October 22, 2011

SEPADAN DENGAN PERTOBATAN

Baca: 1 Yohanes 3:1-10

Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci (1 Yohanes 3:3)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 22-24

Komunisme tidak memercayai eksistensi surga dan kekekalan. Walau demikian, pemerintahan komunis di Rusia menjanjikan kemunculan generasi baru manusia yang berwatak luhur. Dengan mengabaikan kekekalan sebagai daya dorong, mungkinkah mereka mencapainya? Keruntuhan komunisme sekian dekade kemudian menyingkapkan borok-boroknya. Alih-alih bangkitnya “Manusia Sosialis Baru”, rata-rata warga Soviet lebih suka menghabiskan uang untuk mabuk-mabukan daripada membantu anak-anak yang membutuhkan.

Josef Tson, pendeta Rumania, menggarisbawahi hal ini: “Mereka tidak punya motivasi untuk berbuat baik. Mereka melihat bahwa dalam dunia yang sepenuhnya material, hanya ia yang bergegas-gegas dan menyambar bagi dirinya sendiri, yang bisa memiliki sesuatu. Buat apa mereka menyangkal diri dan jujur? Apa motivasi yang bisa ditawarkan pada mereka untuk menjalani hidup yang berguna bagi orang lain?”

Kegawalan komunisme menyodorkan pelajaran tentang pentingnya perspektif kekekalan dalam menjalani pertobatan. Metanoia, bahasa Yunani untuk pertobatan, mengacu pada pembaruan pikiran yang berujung pada perubahan tindakan menuju kebajikan. Tanpa kesadaran akan kekekalan, pertobatan menjadi seperti perjalanan tanpa motivasi dan tanpa tujuan. Orang bisa gampang patah arang di tengah jalan. Sudut pandang mengenai kekekalan menggugah pertobatan kita. Kalau kita memercayai kekekalan, apakah hidup kita menunjukkan pertobatan dan perubahan yang sepadan? Sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa (ayat 9) —ARS
APA YANG KITA LAKUKAN DI DUNIA INI BERGEMA DI KEKEKALAN
Written by Arie Saptaji
Share:

Friday, October 21, 2011

SIAPA MENCARI SIAPA

Baca: Lukas 19:1-10
Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 18-21

Saya ingin melihat seperti apa Dia. Seorang buta baru saja Dia sembuhkan sebelum ke kota ini. Saya tidak yakin Dia mau menemui saya, apalagi jika Dia tahu saya pemungut cukai. Saya juga tidak yakin berani mendekati-Nya langsung. Tetapi tak apa-apa, saya cuma mau melihat-Nya.” Mungkinkah ini yang ada dalam pikiran Zakheus, saat ia tidak berhasil menerobos kerumunan orang karena keterbatasan fisiknya dan kemudian nekat memanjat pohon ara untuk melihat Yesus?

Alasan Zakheus mencari Yesus memang tidak dijelaskan, selain bahwa ia ingin melihat Yesus. Yang jelas, hatinya membuncah dengan sukacita ketika Yang Dicari itu melihat, menyapa, bahkan mau menumpang di rumahnya (ayat 5-6). Harta miliknya menjadi tak begitu berarti; setengah hartanya akan diberikan kepada orang miskin dan orang yang pernah ia peras akan mendapat ganti empat  kali lipat (ayat 8). Zakheus bersukacita. Pertanyaannya, apakah hanya Zakheus yang mencari Yesus? Tidak. Usaha Zakheus memang patut diacungi jempol, tetapi Yesuslah yang lebih dulu menyapanya. Yesuslah yang mencari dan menyelamatkan Zakheus yang ”hilang” (ayat 10).

Kita mungkin rindu bisa ”melihat” Tuhan di hidup kita, tetapi juga takut untuk sedemikian dekat kepada-Nya. Kita mengikuti ibadah diam-diam, duduk sendiri berharap tidak dikenali, takut terlibat dalam pelayanan, merasa berdosa. Fakta bahwa kita merasa tidak layak atau bahwa orang-orang tidak senang dengan perubahan yang kita alami bisa saja terjadi. Namun ingatlah bahwa bukan kita saja yang sedang mencari Yesus. Yesus pun sangat rindu mencari dan menyelamatkan kita. Dia ingin tinggal di hati kita —SL
TUHAN SANGAT INGIN MENCARI JIWA TERHILANG
DATANG DEKAT DAN JANGAN JAUH DARI-NYA
                                            Written by Sicillia Leiwakabessy
Share:

Thursday, October 20, 2011

HARVEY PEKAR

Baca: Markus 4:1-20

… kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah (Markus 4:19)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 15-17

Harvey Pekar, dalam novel grafisnya yang berjudul The Quitter, menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh kecemasan sehingga selalu gelisah di sekolah, gagal kuliah, dan berganti-ganti pekerjaan. Sebenarnya, ia sudah sukses dengan komik yang berjudul American Splendor, menang di Festival Cannes dan Sundance, mendapat pujian dari USA Today dan New York Times, juga mendapat kontrak-kontrak besar. Namun di halaman terakhir, Pekar berkata: “Mungkin aku akan selalu cemas … sekalipun buku-buku yang kutulis laku keras. Aku bermimpi bisa hidup tenang tanpa masalah dalam jangka panjang. Tetapi umurku sekarang sudah 65. Jadi, apa itu akan terjadi?”

Yesus mengibaratkan kecemasan seperti semak duri. Tuhan dapat menyentuh kita melalui firman-Nya—lewat Alkitab atau peristiwa sehari-hari. Akan tetapi, apabila kita masih menyimpan ”semak duri”, maka ”benih iman” kita tak dapat bertumbuh. Yesus memaparkan dengan gamblang sumber-sumber kecemasan manusia: kekhawatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, keinginan-keinginan akan hal yang lain (ayat 19). Hal-hal itu membelenggu kita—dan membuat kita tak berbuah.

Harvey Pekar, jenius komik yang hatinya terikat kecemasan, akhirnya meninggal pada Juli 2010 lalu. Ia mengidap kanker. Namun, sumber utama kematiannya bukan kanker, melainkan terlalu banyak mengkonsumsi obat anti depresi. Ini mendorong kita untuk memeriksa diri: Apakah ”semak duri” masih mengimpit hidup kita? Apakah firman Tuhan dan kebenaran-Nya sudah kita nomor duakan? Mari belajar berserah kepada Tuhan, sehingga benih firman Tuhan dan kebenaran-Nya di hati kita, dapat bertumbuh dan berbuah —OLV
KENDALIKAN DAN SERAHKAN KECEMASAN ANDA KEPADA TUHAN
SEBELUM KECEMASAN ITU MENGENDALIKAN KITA
Written by Olivia Elena
Share:

Wednesday, October 19, 2011

TUGAS DAN PANGGILAN SUAMI


Share:

Tuesday, October 18, 2011

BELENGGU BUKAN MASALAH


Baca: Filemon 

Dari Paulus, seorang tahanan karena Kristus Yesus .... Kepada Filemon yang terkasih, teman sekerja kami (Filemon 1:1)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 8-10

Lie Tjiu Kie berusia 94 tahun. Meski sudah berusia lanjut dan harus duduk di kursi roda, ia terus melayani Tuhan dan menjadi berkat. Setiap hari ia berdoa bagi keluarga dan saudara-saudaranya yang belum percaya. Bahkan ketika ia sakit dan banyak dikunjungi, ia memakai kesempatan itu untuk mengajak saudara-saudaranya yang belum percaya untuk beriman kepada Kristus. Salah satunya, beberapa tahun lalu beliau meminta orangtua saya datang beribadah ke gereja. Hasilnya, orangtua saya sungguh-sungguh mau datang ke gereja untuk kali pertama, tepat ketika saya bernyanyi di paduan suara pada perayaan Natal.

Keadaan lemah dan terpenjara tak membuat Paulus berhenti mengabarkan Injil dan melayani Tuhan. Justru dalam keadaan demikian ia bisa banyak menulis, salah satunya menulis kitab Filemon. Dan melakukan pelayanan yang berarti, khususnya bagi Onesimus. Ya, di kitab ini kita membaca tentang Onesimus—budak Filemon yang melarikan diri. Ketika Onesimus bertemu Paulus—kemungkinan besar di penjara—ia mendengar Injil dari Paulus dan menjadi orang percaya. Dari situ, Paulus menulis surat kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman.

Saat ini mungkin kita merasa terbelenggu dengan keadaan: kelemahan tubuh; usia senja yang membuat kita tak lagi leluasa bergerak; atau kesibukan pekerjaan. Apakah keterbatasan-keterbatasan ini menghalangi kita untuk melayani Tuhan? Atau justru memacu kita untuk bangkit dan kreatif mencari cara, sehingga di tengah kelemahan pun kita tetap dapat bersaksi tentang Tuhan? —VT
SELAGI HAYAT MASIH DIKANDUNG BADAN
MASIH ADA KESEMPATAN MELAYANI TUHAN
Written by Vonny Thay
Share:

Sunday, October 16, 2011

YEREMIA DAN HANANYA


Baca: Yeremia 28

Pergilah mengatakan kepada Hananya: Beginilah firman Tuhan: Engkau telah mematahkan gandar kayu, tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai gantinya (Yeremia 28:13)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 1-3

Apa yang kita harapkan saat menghadiri ibadah atau saat mengundang seorang hamba Tuhan untuk berbicara di acara kita? Mungkin kita berharap mendengar hal-hal menyenangkan seperti bahwa kita dikasihi Tuhan, bahwa penyakit kita segera sembuh, masalah kita segera teratasi, keluarga pasti rukun, serta berkat Tuhan senantiasa melimpah bagi kita.

Tentu semua harapan baik itu tidak salah. Namun hendaklah kita ingat, maksud Tuhan tak selalu disampaikan dengan cara yang kita sukai. Firman-Nya tidak untuk menyenangkan telinga kita semata, tetapi untuk membawa kita semakin dekat kepada-Nya dan memahami maksud-Nya. Pada zaman Zedekia menjadi raja Yehuda, Yeremia dan Hananya sama-sama menjadi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Yeremia dan nabi-nabi pendahulu menubuatkan tentang pembuangan umat ke Babel, sementara Nabi Hananya menyampaikan hal sebaliknya, yakni tentang berakhirnya pembuangan. Tentu perkataan ini lebih suka didengarkan. Sayangnya, itu tidak berasal dari Tuhan. Nabi Hananya pun dihukum.

Kata-kata manis memang menyenangkan untuk didengar, sedangkan teguran atau peringatan sering membuat telinga menjadi panas. Tetapi adakalanya hal yang tak enak didengar pun perlu untuk kebaikan kita. Jadi, jika kita adalah orang yang dipercaya untuk menyampaikan firman Tuhan, sampaikanlah pesan bukan untuk menyenangkan pendengar, tetapi menyenangkan Tuhan. Jika kita adalah pendengar, kita perlu belajar mendengar dengan baik apa yang Tuhan sukai dan bukan hanya memilih apa yang menyukakan hati kita —SL
TUHAN BERBICARA DENGAN BANYAK CARA
DENGARKANLAH DENGAN AKAL BUDI DAN HATI

Written by Sicillia Leiwakabessy


Share:

Saturday, October 15, 2011

JUDI ?


Baca: 2 Tesalonika 3:6-12

Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tesalonika 3:10)

Bacaan Alkitab Setahun:
Maleakhi 1-4

Apa yang terkenal dari Las Vegas—sebuah kota di Amerika? Banyak orang akan menjawab, “Tempat perjudiannya”. Itu benar. Judi model apa pun dapat ditemukan di sana. Tak heran, kota ini dikunjungi para penjudi dari seluruh dunia. Walaupun demikian, judi tidak hanya dilakukan orang di kota sekelas Las Vegas saja. Di kota kecil atau perkampungan pun, judi banyak dilakukan. Jahatnya, judi tidak hanya dilakukan oleh orang kaya, melainkan juga oleh orang-orang miskin. Bahkan, judi tidak hanya dilakukan orang dewasa, tetapi ada juga anak-anak sekolah yang ikut berjudi.

Judi adalah kebiasaan yang sangat buruk, sebab merusak mentalitas seseorang. Etos kerja orang dihancurkan, sebab judi dianggap jalan pintas untuk menjadi kaya, hidup enak, tanpa kerja keras. Namun benarkah dengan berjudi, orang bisa bahagia? Ternyata tidak. Sebaliknya, kita akan lebih banyak menjumpai orang yang bangkrut karena judi. Dan, jika salah satu anggota keluarga punya kebiasaan berjudi, bisa dipastikan keluarga itu akan mengalami masalah serius.

Alkitab mengecam perjudian. Bahkan dengan keras Paulus berkata, jika  seseorang tidak mau bekerja, mau cari enak, janganlah ia makan. Judi adalah bentuk kemalasan, dan Alkitab jelas mencela kemalasan dalam bentuk apa pun. Selain itu, efek judi sangat tidak baik. Toh, kalau seseorang menang dalam jumlah banyak, ia membuat orang lain menderita. Sebab yang kalah bukan si penjudi saja, tetapi juga seluruh keluarganya. Maka, jauhilah judi dalam bentuk sekecil apa pun, agar ia tak menyeret kita ke perangkap yang lebih dalam —PK
BANGKITKAN DIRI KITA UNTUK MENJADI ORANG YANG RAJIN
SEBAB KEMALASAN TAKKAN MEMBAWA KITA KE MANA-MANA
Written by Petrus Kwik

Share:

DAY QUOTES


Cobalah ambil waktu sedikit untuk merenungkan maknanya

1. Doa bukanlah "ban serep" yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi "kemudi" yang menunjukkan arah yang tepat.

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil?
Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita.
Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.

4. Semua hal dalam hidup adalah sementara.
Jika berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya.
Jika berlangsung salah, jangan khawatir, karena juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas!
Teman baru adalah berlian!
Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata " Tenang sayang, itu hanyalah belokan, bukan akhir!

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.

8. Seorang buta bertanya pada seorang Bhikhu : "Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?" Dia menjawab : "Ya ada, kehilangan visimu!"

9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika kamu aman dan happy, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu.

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini. 

Source
Share:

Friday, October 14, 2011

MENYIAPKAN PENGGANTI

Baca: Yohanes 13:1-5

... Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa (Yohanes 13:1)

Bacaan Alkitab Setahun:
Zakharia 13-14
John Stott, seorang hamba Tuhan danpenulis kristiani ternama, meninggal dunia pada 27 Juli 2011, dalam usia 90 tahun. Sebagai penginjil yang sangat bersemangat, John Stott telah mengajar banyak orang untuk sungguh-sungguh mengasihi sang Juru Selamat, juga mendukung Gereja Tuhan di seluruh dunia. Yang menarik, pemimpin John Stott Ministries sekarang, Benjamin Homan, mengatakan bahwa institusi mereka telah siap melanjutkan pelayanan apabila John Stott meninggal, sejak 15 tahun sebelumnya. “Saya pikir ia hendak memberi teladan bagi para pemimpin lembaga pelayanan, tentang meneruskan kepemimpinan kepada pemimpin-pemimpin baru,” demikian papar Homan.

Rupanya John Stott mengikuti jejak Yesus, junjungan hidupnya. Yesus tahu, tidak untuk seterusnya Dia akan mendampingi murid-murid. Suatu saat Dia mesti meninggalkan mereka. Itu sebabnya, Yesus banyak menyiapkan mereka untuk melanjutkan pelayanan. Tanpa kenal lelah, Yesus banyak sekali mengajar dan menjelaskan firman secara khusus kepada murid-murid-Nya. Dia juga tak henti memberi teladan lewat banyak peristiwa dan pengalaman. Bahkan pada saat-saat terakhir Dia hendak kembali kepada Bapa, Yesus terus memberi pesan: Dia membasuh kaki murid-murid-Nya, agar kelak mereka menjadi pemimpin yang rendah hati serta sedia melayani.

Ini mengingatkan kita semua: setiap pelayanan yang kita pegang dan tekuni saat ini, perlu diteruskan. Karena tak selamanya kita dapat mengampunya, mari segera cari penerus yang akan melanjutkan perjuangan. Titipkan pelayanan yang telah ditekuni dengan cinta, agar diteruskan untuk memuliakan-Nya —AW
APABILA SEBUAH PELAYANAN TELAH DIPERCAYAKAN
TUHAN RINDU PELAYANAN ITU DAPAT SELALU DITERUSKAN
Written by Agustina Wijayani

Share:

Thursday, October 13, 2011

MENJAGA OBJEKTIVITAS


Baca: 1 Samuel 20:1-9

Yonatan berkata kepada Daud: ”Apa pun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu” (1 Samuel 20:4)

Bacaan Alkitab Setahun:
Zakharia 10-12

Ketika menjalani perkuliahan di jurusan komunikasi, ada sebuah kata yang selalu diulang oleh dosen saya di kelas: objektivitas. Objektivitas adalah salah satu prinsip terpenting untuk para calon awak media. Ketika berbincang dengan rekan dari jurusan sains, ternyata prinsip yang sama juga bergema di kelasnya. Menurut sang profesor di sana, objektivitas adalah kunci sukses seorang peneliti. Tampaknya, prinsip objektivitas ini telah menjadi “kaidah kencana” di bidang apa pun.

Suatu kali, Daud mengeluhkan secara terus terang kepada Yonatan, tentang sikap ayahnya—Saul. Seiring berjalannya waktu, makin jelas bahwa Saul melihat Daud sebagai ancaman bagi takhtanya. Dari sini kita belajar dari sikap objektif Yonatan. Ia tidak langsung menunjukkan sikap jengkel kepada Daud karena menuduh ayahnya. Sebaliknya, ia juga tidak langsung terprovokasi oleh Daud untuk ikut menjatuhkan Saul.

Dengan prinsip objektivitas dan pengetahuan bahwa Daud berada di pihak yang benar, Yonatan mengajak sahabatnya yang kalut itu untuk mencari jalan terbaik. Akhirnya kita tahu bahwa Yonatan berhasil menyelamatkan nyawa Daud, yang kemudian menjadi raja besar di Israel—meski untuk itu ia harus mengorbankan kesempatannya sendiri untuk naik takhta. 

Sikap objektif dapat membawa perubahan yang nyata dalam kehidupan ini. Seseorang yang bersikap objektif akan berusaha menempatkan diri dalam posisi yang netral—tak berpihak. Dari situ, seseorang dapat memberikan sumbangsih dan solusi positif bagi pergumulan orang-orang di sekitarnya. Tuhan pun disenangkan melaluinya —OLV
KETIKA ANDA MEMUTUSKAN UNTUK BERSIKAP OBJEKTIF
ANDA MEMUTUSKAN UNTUK BERJALAN DALAM KEBENARAN

Written by Olivia Elena



Share: